Minggu, 15 Desember 2013

Spiritual Awareness (Psikologi Kepribadian)

         Manusia yang utuh merupakan manusia yang meraih Spiritualitas. Sebuah pepatah mengatakan. “Spiritual bukan agama. Tetapi orang yang beragama tanpa spiritualitas tidak merasakan atau menemukan apa-apa, dan spiritualitas tanpa agama adalah kacau” (Danah Zahar dalam bukunya SQ The Spiritual Intelligence).
  Disini saya akan memaparkan satu pembahasan mengenai Kesadaran ruhani (Spiritual Awareness) yang saya dapatkan dari buku “Tren Spiritualitas Millenium Ketiga”, karya Saifuddin Aman, yaitu:
            Seluruh ulama sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna kejadiannya, terdiri dari 2 unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur ruhani. Unsur jasmani merupakan alam syahadah atau alam materi, dan unsur ruhani merupakan alam gaib atau alam energi.  Semua makhluk dicipta dengan tangan Allah. Alam materi diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya melalui proses bertahap, dan alam energi diwujudkan oleh Allah dengan daya-Nya tanpa proses, yaitu dari Ruh-Nya. Itu sebabnya, jasmani mengalami rusak dan ruh kekal atau tidak mengalami rusak. Jasmani akan kembali ke tanah dan ruhani akan kembali kepada Allah.
           Allah telah menciptakan ruh terlebih dahulu yang berada di alam arwah. Kemudian Allah menciptakan jasmani melalui proses yang panjang, baru kemudian meniupkan ruh itu ke dalamnya supaya menjadi manusia untuk menjalani fase-fase kehidupan menuju kesempurnaannya.
        Fisik adalah kendaraan bagi ruh. Fisik bisa kita ibaratkan kapal di tengah laut, dan ruh adalah nahkodanya. Maka di sini, mestinya nahkoda bisa mengarahkan dan menggunakan kapal itu menuju tujuan akhir yang membahagiakan. Namun pada kenyataannya, kebanyakan manusia tidak memberdayakan ruhnya sebagai pengendali fisiknya. Ruh dibuat menurutkan keinginan fisik, bahkan ruh kalah didominasi oleh syahwat fisik. Akibatnya ruh tidak punya daya dan tidak punya kebebasan. Padahal ruh sesungguhnya adalah daya manusia yang paling dahsyat. Mestinya ruh bisa bebas ke mana pergi dan dialah yang bisa mengantarkan pada kesuksesanya.
         Jasad juga bisa kita ibaratkan seperti rumah, dan penghuni rumah adalah ruh. Keceriaan suasana rumah tergantung pada penghuni rumah. Adakah rumah memancarkan cahaya atau menjadi kuburan tergantung pada penghuni rumah. Adakah rumah itu menjadi surga atau neraka tergantung penghuni rumah.
           Hakikat manusia adalah ruhnya, bukan fisiknya. Manusia sejati tidak meninggal dunia, karena ruh akan kekal. Orang dikatakan mati bukan karena fisiknya tidak bergerak, tidak doyan makan, atau diam di tempat. Bisa jadi dia justru makannya lebih banyak, bisa jadi dia bisa pergi ke mana-mana, bisa jadi dia melakukan apa saja sesuka nafsunya. Mengapa dikatakan mati? Karena ruhnya tidak punya spiritualitas sehingga tidak memberikan dorongan kepada jasmani untuk menjalankan perintah Allah, tidak mendorong fisik untuk melakukan kebaikan sama sekali. Banyak orang yang fisiknya hidup dan gemuk gemulai, tatapi ruhaninya mati. Itu sebabnya Rasulullah Saw. hanya diutus untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup. Orang yang mati ruhaninya tidak akan bisa diberi peringatan.
            Kesadaran Ruhani berarti kesadaran jati diri untuk selalu bersama Tuhan (Kesadaran Ilahiah). Pada akhirnya dia meraih Spiritualitas sebagaimana disebutkan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar