Sabtu, 14 Desember 2013

Aqliyah dan Nafsiyah Manusia (Psikologi Kepribadian)

Kepribadian dalam bahasa Arab disebut as-syakhshiyyah, berasal dari kata syakhshun, artinya, orang atau seseorang atau pribadi. Kepribadian bisa juga diartikan identitas seseorang (haqiiqatus syakhsh). Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam As Syakhshiyyah Al Islamiyyah jilid I halaman 5, menyatakan bahwa kepribadian atau syakhshiyyah seseorang dibentuk oleh cara berpikirnya (aqliyah) dan caranya berbuat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginannya (nafsiyah).
Artinya, kepribadian yang dimiliki seseorang disebabkan bagaimana cara ia berpikir dan bagaimana ia bertindak, Jika ia berpikir positif maka perbuatannya akan positif dan menjadi kepribadian yang positif atau baik. Jadi, manusia dikatakan manusia yang seutuhnya jika menggunakan aqliyah dan nafsiyah dengan semestinya.
Aqliyah atau akal  yang mana digunakan untuk berpikir, hendaknya digunakan untuk berpikir hal-hal yang bermanfaat. Salah satunya dengan cara tafakur yaitu memikirkan akan ciptaan Allah dan tidak memikirkan tentang zat Allah.
Nafsiyah atau keinginan, hendaklah dikendalikan, karena jika manusia tidak dapat mengendalikan nafsunya, ia akan terjerumus ke jalan yang salah. Maka kendalikanlah nafsu kita, salah satunya dengan cara berpuasa. Dengan berpuasa diri kita akan terjaga, artinya kita akan terhindar dari hal-hal atau keinginan kita yang negatif. Sehingga akhlaq kita menjadi mulia, karena jika kita berpuasa, kita akan terdorong untuk berbuat baik. Jika kita sudah berbuat baik, dan dilakukan terus menerus, maka perbuatan baik tersebut akan menjadi kepribadian kita, dan terjadilah kepribadian yang baik dalam diri kita.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar