Kepribadian dalam bahasa Arab
disebut as-syakhshiyyah, berasal dari kata syakhshun, artinya, orang atau
seseorang atau pribadi. Kepribadian bisa juga diartikan identitas seseorang
(haqiiqatus syakhsh). Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam As Syakhshiyyah Al
Islamiyyah jilid I halaman 5, menyatakan bahwa kepribadian atau syakhshiyyah
seseorang dibentuk oleh cara berpikirnya (aqliyah) dan caranya berbuat untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginannya (nafsiyah).
Artinya, kepribadian yang
dimiliki seseorang disebabkan bagaimana cara ia berpikir dan bagaimana ia
bertindak, Jika ia berpikir positif maka perbuatannya akan positif dan menjadi
kepribadian yang positif atau baik. Jadi, manusia dikatakan manusia yang
seutuhnya jika menggunakan aqliyah dan nafsiyah dengan semestinya.
Aqliyah atau akal yang mana digunakan untuk berpikir, hendaknya
digunakan untuk berpikir hal-hal yang bermanfaat. Salah satunya dengan cara
tafakur yaitu memikirkan akan ciptaan Allah dan tidak memikirkan tentang zat
Allah.
Nafsiyah atau keinginan,
hendaklah dikendalikan, karena jika manusia tidak dapat mengendalikan nafsunya,
ia akan terjerumus ke jalan yang salah. Maka kendalikanlah nafsu kita, salah
satunya dengan cara berpuasa. Dengan berpuasa diri kita akan terjaga, artinya
kita akan terhindar dari hal-hal atau keinginan kita yang negatif. Sehingga
akhlaq kita menjadi mulia, karena jika kita berpuasa, kita akan terdorong untuk
berbuat baik. Jika kita sudah berbuat baik, dan dilakukan terus menerus, maka
perbuatan baik tersebut akan menjadi kepribadian kita, dan terjadilah
kepribadian yang baik dalam diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar