Sabtu, 14 Desember 2013

Kesucian Manusia Sempurna (Psikologi Kepribadian)


Manusia yang utuh dapat diartikan dengan manusia yang sempurna atau dalam tasawuf disebut dengan insan kamil. Insan kamil atau manusia sempurna merupakan puncak dari tingkatan seorang manusia. Untuk mencapai puncak tersebut, manusia harus melalui beberapa tahap atau maqam. Terdapat 7 maqam untuk mencapai Insan Kamil, adapun maqam yang pertama yang harus dicapai adalah maqam taubat. Taubat merupakan penyesalan atas dosa yang telah diperbuat dan berusaha membersihkan diri atau penyucian jiwa, sebagaimana dalam Kitab Sirrul Asrar karangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
Penyucian jiwa dilakukan untuk mencapai sifat-sifat Ilahi dan menggapai alam zat. Untuk mencapainya, dibutuhkan pendidikan yang akan membimbing manusia dalam proses pembersihan cermin hati dari citra hewani dan manusiawi dengan menyebutkan nama-nama Ilahi. Karenanya, zikir merupakan  kunci pembuka mata hati. Hanya jika mata itu terbuka, seseorang dapat melihat sifat-sifat sejati Allah SWT. Selanjutnya ia dapat melihat pantulan rahmat, karunia, keindahan, dan kebaikan Ilahi pada mata hati yang telah disucikan. Rasulullah Saw. bersabda, “Mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain”.
           Ketika mata hati telah disucikan dengan terus-terusan berdzikir menyebut nama Allah, ia akan meraih  ilmu mengenai sifat-sifat Ilahi. Penyaksian ini hanya mungkin terjadi di dalam cermin hati.
        Penyucian yang bertujuan untuk mencapai zat Ilahi dilakukan dengan terus menerus mengingat dan menyebutkan kalimat syahadah (persaksian). Dalam kalimat tersebut ada tiga nama Yang Esa, yakni tiga terakhir dari dua belas nama Ilahi, yaitu:
            Laa Ilaaha Illallaah “Tidak ada tuhan selain Allah”
Allah- Hu- Haqq- Hayy- Qayyum- Qahhar- Fattaah- Waahid- Shamad.
Semua nama ini harus dilafalkan bukan hanya oleh lisan, melainkan juga oleh hati. Hanya setelah itulah mata hati akan melihat cahaya hakikat. Ketika cahaya suci zat Ilahi telah tampak, semua sifat jasmani menghilang dan segala sesuatu sirna. Inilah maqam fana (sirnanya segala sesuatu). Tampilan cahaya Ilahi menyirnakan semua cahaya lainnya.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ -٨٨-

“Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”

يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ -٣٩-

“Allah Menghapus dan Menetapkan apa yang Dia Kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).”
          Ketika semuanya sirna, yang ada secara kekal adalah ruh suci. Ia melihat dengan cahaya Allah. Ia melihat-Nya, Dia melihatnya. Ia melihat melalui-Nya, ia melihat di dalam zat-Nya; ia melihat untuk-Nya. Tak ada citra, tak ada keserupaan dalam melihat-Nya.
Setelah fana, yang ada hanyalah cahaya yang murni dan mutlak. Tak ada apa pun yang dapat diketahui. Itulah maqam fana. Tak ada lagi pikiran untuk menyampaikan berita apa pun. Rasulullah Saw. menjelaskan keadaan ini dengan sabdanya: “Suatu ketika aku pernah berada sangat dekat kepada Allah sehingga tak seorang pun, baik malaikat, rasul atau nabi, yang menjadi penghalang antara kami.” Itulah maqam kesendirian, ketika seseorang telah mengucilkan dirinya dari segala sesuatu kecuali Allah. Itulah maqam kebersatuan, seperti yang Allah perintahkan dalam sebuah hadits qudsi, “Menyendirilah dari semua dan temukanlah kebersatuan”
Kesendirian itu dimulai dengan sirnanya segala sesuatu yang duniawi. Setelah itu, kau akan memeperoleh sifat-sifat Ilahi. Itulah makna sabda Rasulullah Saw., “Hiasi dirimu dengan sifat Allah.”
“Sucikan dirimu, benamkan dirimu dalam sifat-sifat Allah”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar