Manusia yang utuh dapat diartikan dengan manusia yang
sempurna atau dalam tasawuf disebut dengan insan kamil. Insan kamil atau
manusia sempurna merupakan puncak dari tingkatan seorang manusia. Untuk mencapai
puncak tersebut, manusia harus melalui beberapa tahap atau maqam. Terdapat 7
maqam untuk mencapai Insan Kamil, adapun maqam yang pertama yang harus dicapai
adalah maqam taubat. Taubat merupakan penyesalan atas dosa yang telah diperbuat
dan berusaha membersihkan diri atau penyucian jiwa, sebagaimana dalam Kitab
Sirrul Asrar karangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
Penyucian jiwa dilakukan untuk mencapai sifat-sifat
Ilahi dan menggapai alam zat. Untuk mencapainya, dibutuhkan pendidikan yang
akan membimbing manusia dalam proses pembersihan cermin hati dari citra hewani
dan manusiawi dengan menyebutkan nama-nama Ilahi. Karenanya, zikir
merupakan kunci pembuka mata hati. Hanya
jika mata itu terbuka, seseorang dapat melihat sifat-sifat sejati Allah SWT. Selanjutnya
ia dapat melihat pantulan rahmat, karunia, keindahan, dan kebaikan Ilahi pada
mata hati yang telah disucikan. Rasulullah Saw. bersabda, “Mukmin adalah cermin
bagi mukmin yang lain”.
Ketika
mata hati telah disucikan dengan terus-terusan berdzikir menyebut nama Allah,
ia akan meraih ilmu mengenai sifat-sifat
Ilahi. Penyaksian ini hanya mungkin terjadi di dalam cermin hati.
Penyucian
yang bertujuan untuk mencapai zat Ilahi dilakukan dengan terus menerus
mengingat dan menyebutkan kalimat syahadah (persaksian). Dalam kalimat tersebut
ada tiga nama Yang Esa, yakni tiga terakhir dari dua belas nama Ilahi, yaitu:
Laa
Ilaaha Illallaah “Tidak ada tuhan selain Allah”
Allah- Hu- Haqq- Hayy- Qayyum- Qahhar- Fattaah-
Waahid- Shamad.
Semua nama ini harus dilafalkan bukan hanya oleh
lisan, melainkan juga oleh hati. Hanya setelah itulah mata hati akan melihat
cahaya hakikat. Ketika cahaya suci zat Ilahi telah tampak, semua sifat jasmani
menghilang dan segala sesuatu sirna. Inilah maqam fana (sirnanya segala sesuatu).
Tampilan cahaya Ilahi menyirnakan semua cahaya lainnya.
وَلَا
تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا
وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ -٨٨-
“Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah.
Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa,
kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu
dikembalikan.”
يَمْحُو
اللّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ -٣٩-
“Allah Menghapus dan Menetapkan apa yang Dia
Kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).”
Ketika
semuanya sirna, yang ada secara kekal adalah ruh suci. Ia melihat dengan cahaya
Allah. Ia melihat-Nya, Dia melihatnya. Ia melihat melalui-Nya, ia melihat di
dalam zat-Nya; ia melihat untuk-Nya. Tak ada citra, tak ada keserupaan dalam
melihat-Nya.
Setelah fana, yang ada hanyalah cahaya yang murni dan
mutlak. Tak ada apa pun yang dapat diketahui. Itulah maqam fana. Tak ada lagi
pikiran untuk menyampaikan berita apa pun. Rasulullah Saw. menjelaskan keadaan
ini dengan sabdanya: “Suatu ketika aku pernah berada sangat dekat kepada Allah
sehingga tak seorang pun, baik malaikat, rasul atau nabi, yang menjadi
penghalang antara kami.” Itulah maqam kesendirian, ketika seseorang telah
mengucilkan dirinya dari segala sesuatu kecuali Allah. Itulah maqam
kebersatuan, seperti yang Allah perintahkan dalam sebuah hadits qudsi,
“Menyendirilah dari semua dan temukanlah kebersatuan”
Kesendirian itu dimulai dengan sirnanya segala
sesuatu yang duniawi. Setelah itu, kau akan memeperoleh sifat-sifat Ilahi.
Itulah makna sabda Rasulullah Saw., “Hiasi dirimu dengan sifat Allah.”
“Sucikan dirimu, benamkan dirimu dalam sifat-sifat
Allah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar