Sabtu, 14 Desember 2013

Kepribadian dalam pandangan Islam (Psikologi Kepribadian)


Dalam pandangan Islam, kepribadian merupakan interaksi antara nafs (jiwa), qalb (hati), akal (akal) dan bashirah (hati nurani). Kepribadian seseorang terjadi karena:
      1.      Fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya
Jika orang tuanya berakhlaq baik, maka anaknya akan berakhlaq baik , jika orang tuanya memiliki sifat-sifat yang baik dan buruk, maka sifat-sifat tersebut akan terdapat pula pada anaknya, sehingga terbentuklah kepribadian.
      2.      Melalui proses panjang riwayat hidupnya
Proses internalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Dalam perspektif ini maka keyakinan agama yang ia terima dari pengetahuan maupun dari pengalaman masuk dalam struktur kepribadian seseorang. Anak yang dididik dengan nilai-nilai keislaman, maka anak tersebut akan terbiasa menjalankan ibadah, dan patuh pada kewajiban-kewajiban seorang muslim. 
Seorang muslim dengan kepribadian muslimnya yang prima, tidak bisa merasakan enaknya daging babi, meskipun ia dimasak dengan standar seleranya. Seseorang dengan kepribadian muslimnya yang prima juga tidak sanggup melangkah melayani godaan maksiat.
 Demikian juga ia selalu bangun dari tidurnya yang nyenyak jika ia belum melaksanakan
shalat Isya.
Kualitas kepribadian muslim setiap orang berbeda-beda. Kualitas kepribadian muslim terkadang kuat, utuh dan prima, tetapi bisa saja terpengaruh dari linkungannya. Jika lingkungannya penuh dengan nuansa Islam, maka akan terbentuk kepribadian yang Islami, tapi jika lingkungannya penuh dengan hal-hal yang kurang baik, maka akan terbentuk kepribadian yang kurang baik pula
Konseling agama adalah dimaksud untuk menghidupkan getaran batin iman dari orang yang sedang terganggu kejiwaannya hingga kepribadiaanya tidak utuh, agar dengan getaran batin iman itu sistem nafsaninya bekerja kembali membentuk sinergi yang melahirkan perilaku positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar