Dalam pandangan Islam,
kepribadian merupakan interaksi antara nafs (jiwa), qalb (hati), akal (akal)
dan bashirah (hati nurani). Kepribadian seseorang terjadi karena:
1.
Fitrah bawaan sejak lahir dari
warisan genetika orang tuanya
Jika
orang tuanya berakhlaq baik, maka anaknya akan berakhlaq baik , jika orang
tuanya memiliki sifat-sifat yang baik dan buruk, maka sifat-sifat tersebut akan
terdapat pula pada anaknya, sehingga terbentuklah kepribadian.
2.
Melalui proses panjang riwayat
hidupnya
Proses internalisasi nilai
pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Dalam perspektif ini maka keyakinan
agama yang ia terima dari pengetahuan maupun dari pengalaman masuk dalam
struktur kepribadian seseorang. Anak yang dididik dengan nilai-nilai keislaman,
maka anak tersebut akan terbiasa menjalankan ibadah, dan patuh pada
kewajiban-kewajiban seorang muslim.
Seorang muslim dengan kepribadian
muslimnya yang prima, tidak bisa merasakan enaknya daging babi, meskipun ia dimasak
dengan standar seleranya. Seseorang dengan kepribadian muslimnya yang prima
juga tidak sanggup melangkah melayani godaan maksiat.
Demikian juga ia selalu bangun dari tidurnya
yang nyenyak jika ia belum melaksanakan
shalat Isya.
shalat Isya.
Kualitas kepribadian muslim
setiap orang berbeda-beda. Kualitas kepribadian muslim terkadang kuat, utuh dan
prima, tetapi bisa saja terpengaruh dari linkungannya. Jika lingkungannya penuh
dengan nuansa Islam, maka akan terbentuk kepribadian yang Islami, tapi jika
lingkungannya penuh dengan hal-hal yang kurang baik, maka akan terbentuk
kepribadian yang kurang baik pula
Konseling agama adalah dimaksud
untuk menghidupkan getaran batin iman dari orang yang sedang terganggu
kejiwaannya hingga kepribadiaanya tidak utuh, agar dengan getaran batin iman
itu sistem nafsaninya bekerja kembali membentuk sinergi yang melahirkan
perilaku positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar