Manusia yang utuh merupakan manusia yang meraih
Spiritualitas. Sebuah pepatah mengatakan. “Spiritual bukan agama. Tetapi orang
yang beragama tanpa spiritualitas tidak merasakan atau menemukan apa-apa, dan
spiritualitas tanpa agama adalah kacau” (Danah Zahar dalam bukunya SQ The
Spiritual Intelligence).
Disini saya akan memaparkan satu pembahasan mengenai Kesadaran ruhani (Spiritual Awareness)
yang saya dapatkan dari buku “Tren Spiritualitas Millenium Ketiga”, karya
Saifuddin Aman, yaitu:
Seluruh
ulama sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna kejadiannya,
terdiri dari 2 unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur ruhani. Unsur jasmani
merupakan alam syahadah atau alam materi, dan unsur ruhani merupakan alam gaib
atau alam energi. Semua makhluk dicipta
dengan tangan Allah. Alam materi diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya
melalui proses bertahap, dan alam energi diwujudkan oleh Allah dengan daya-Nya
tanpa proses, yaitu dari Ruh-Nya. Itu sebabnya, jasmani mengalami rusak dan ruh
kekal atau tidak mengalami rusak. Jasmani akan kembali ke tanah dan ruhani akan
kembali kepada Allah.
Allah
telah menciptakan ruh terlebih dahulu yang berada di alam arwah. Kemudian Allah menciptakan jasmani melalui proses yang panjang, baru kemudian meniupkan ruh
itu ke dalamnya supaya menjadi manusia untuk menjalani fase-fase kehidupan
menuju kesempurnaannya.
Fisik
adalah kendaraan bagi ruh. Fisik bisa kita ibaratkan kapal di tengah laut, dan
ruh adalah nahkodanya. Maka di sini, mestinya nahkoda bisa mengarahkan dan
menggunakan kapal itu menuju tujuan akhir yang membahagiakan. Namun pada
kenyataannya, kebanyakan manusia tidak memberdayakan ruhnya sebagai pengendali
fisiknya. Ruh dibuat menurutkan keinginan fisik, bahkan ruh kalah didominasi
oleh syahwat fisik. Akibatnya ruh tidak punya daya dan tidak punya kebebasan.
Padahal ruh sesungguhnya adalah daya manusia yang paling dahsyat. Mestinya ruh
bisa bebas ke mana pergi dan dialah yang bisa mengantarkan pada kesuksesanya.
Jasad
juga bisa kita ibaratkan seperti rumah, dan penghuni rumah adalah ruh.
Keceriaan suasana rumah tergantung pada penghuni rumah. Adakah rumah
memancarkan cahaya atau menjadi kuburan tergantung pada penghuni rumah. Adakah
rumah itu menjadi surga atau neraka tergantung penghuni rumah.
Hakikat
manusia adalah ruhnya, bukan fisiknya. Manusia sejati tidak meninggal dunia,
karena ruh akan kekal. Orang dikatakan mati bukan karena fisiknya tidak
bergerak, tidak doyan makan, atau diam di tempat. Bisa jadi dia justru makannya
lebih banyak, bisa jadi dia bisa pergi ke mana-mana, bisa jadi dia melakukan
apa saja sesuka nafsunya. Mengapa dikatakan mati? Karena ruhnya tidak punya
spiritualitas sehingga tidak memberikan dorongan kepada jasmani untuk
menjalankan perintah Allah, tidak mendorong fisik untuk melakukan kebaikan sama
sekali. Banyak orang yang fisiknya hidup dan gemuk gemulai, tatapi ruhaninya
mati. Itu sebabnya Rasulullah Saw. hanya diutus untuk memberi peringatan kepada
orang-orang yang hidup. Orang yang mati ruhaninya tidak akan bisa diberi
peringatan.
Kesadaran
Ruhani berarti kesadaran jati diri untuk selalu bersama Tuhan (Kesadaran
Ilahiah). Pada akhirnya dia meraih Spiritualitas sebagaimana disebutkan di
atas.