Rabu, 27 Agustus 2014

Gadget sebagai kebutuhan Primer, Sekunder, dan Tersier


Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Kehidupan sudah semakin canggih dan hampir semua hal dibantu dengan teknologi, salah satunya gadget-gadget keren yang semakin berkembang. Gadget yang beredaran di pasaran sangat banyak, ada handphone, tablet, laptop, computer, dan sebagainya. Jika pembeli akan membeli sebuah gadget, biasanya hal yang pertama dilihat adalah konten di dalamnya, jika kontennya sesuai dengan kebutuhannya, ia akan membeli gadget tersebut.
Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga setiap individu akan membeli gadget yang sesuai dengan kebutuhannya. Jika gadget yang dibeli belum ada konten yang dibutuhkan, biasanya pembeli akan mengunduhnya di playstore atau mobogenie, dan jika gadget yang dibeli sudah lengkap dengan konten yang diperlukan, pembeli akan merasa senang, karena ia tidak perlu meluangkan waktu untuk mengunduh.
Gadget dan konten menurut saya seperti cangkang dan isi, kalau hanya ada cangkangnya saja atau gadgetnya saja dan tidak ada kontennya, tentu kebutuhan kita tidak terpenuhi, dan jika hanya ada isinya saja atau kontennya saja, tentu kita tidak bisa menggunakan  kontennya, karena konten hanya dapat digunakan melalui gadget.
Jadi seberapa pentingkah gadget dalam kehidupan? Gadget dalam kehidupan bisa menjadi kebutuhan primer, sekunder, atau tersier, tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa gadget tersebut digunakan.
Gadget sepertinya menjadi kebutuhan sekunder bagi para mahasiswa. Karena, hampir setiap tugas harus diketik menggunakan computer atau laptop. Tapi sayangnya harga gadget tersebut cukup mahal bagi sebagian orang. Tetapi mau tidak mau, para mahasiswa harus mengerjakan tugasnya, dan akhirnya para mahasiswa yang tidak punya uang lebih untuk membeli laptop, mereka akan pergi ke warnet atau meminjam laptop teman. Bagi ibu-ibu pun gadget bisa menjadi kebutuhan sekunder, contohya tablet yang digunakan seorang ibu untuk menghubungi suami dan anak-anaknya, dan bagi ibu-ibu yang suka mencoba resep baru, mereka akan menggunakan gadget untuk mengunduh e-book tentang resep masakan. Dan bagi para penghafal Al-Qur’an pun, gadget bisa menjadi kebutuhan sekunder, karena biasanya mereka akan mengunduh AL-Qur’an digital, untuk mendengarkan dan muroja’ah.
            Bagi pekerja yang selalu berhubungan dengan laptop atau computer, seperti teknisi computer, teller bank, akuntan, sekertaris, dan profesi lainnya, gadget bisa menjadi kebutuhan primer bagi mereka, karena jika mereka tidak memiliki gadget, mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Gadget bisa menjadi kebutuhan tersier, seperti untuk bersenang-senang, contohnya seorang anak yang tinggal bersama orang tua, ia tidak akan menggunakan handphonenya untuk menelepon orang tuanya, karena memang masih serumah, tapi mungkin ia akan menggunakan handphone nya untuk bermain games, ia akan mengunduh games, dan jika tidak diawasi oleh orang tua, ia bisa menjadi pecinta games. Contoh lain yaitu anak-anak atau remaja yang tidak terlalu membutuhkan laptop, karena misalnya di sekolah mereka tidak ada tugas yang harus diketik. Tetapi mereka tetap merengek pada orang tua ingin laptop atau android, dan lain-lain, akhirnya mereka akan menggunakan gadget mereka untuk berphoto-photo, mendengarkan lagu, bermain games, dan mungkin ada untuk sekedar bergaya. Dari dua contoh ini, saya menarik kesimpulan, gadget menjadi kebutuhan tersier bagi anak-anak dan remaja yang belum membutuhkan.
Semoga kita bisa mengunakan gadget untuk hal yang bermanfaat dan tidak lupa waktu. Aamiin yaa robbal 'aalamiin.
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin

2 komentar:

  1. Mbak Salma, memang beda-beda ya kan sesuai kebutuhan, nah kalau daku udah di primer kayaknya ini :D

    BalasHapus