Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Kehidupan
sudah semakin canggih dan hampir semua hal dibantu dengan teknologi, salah
satunya gadget-gadget keren yang semakin berkembang. Gadget yang beredaran di
pasaran sangat banyak, ada handphone, tablet, laptop, computer, dan sebagainya.
Jika pembeli akan membeli sebuah gadget, biasanya hal yang pertama dilihat
adalah konten di dalamnya, jika kontennya sesuai dengan kebutuhannya, ia akan
membeli gadget tersebut.
Setiap
orang memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga setiap individu akan membeli
gadget yang sesuai dengan kebutuhannya. Jika gadget yang dibeli belum ada
konten yang dibutuhkan, biasanya pembeli akan mengunduhnya di playstore atau
mobogenie, dan jika gadget yang dibeli sudah lengkap dengan
konten yang diperlukan, pembeli akan merasa senang, karena ia tidak perlu meluangkan
waktu untuk mengunduh.
Gadget
dan konten menurut saya seperti cangkang dan isi, kalau hanya ada cangkangnya
saja atau gadgetnya saja dan tidak ada kontennya, tentu kebutuhan kita tidak
terpenuhi, dan jika hanya ada isinya saja atau kontennya saja, tentu kita tidak
bisa menggunakan kontennya, karena
konten hanya dapat digunakan melalui gadget.
Jadi
seberapa pentingkah gadget dalam kehidupan? Gadget dalam kehidupan bisa menjadi
kebutuhan primer, sekunder, atau tersier, tergantung siapa yang menggunakannya
dan untuk apa gadget tersebut digunakan.
Gadget
sepertinya menjadi kebutuhan sekunder bagi para mahasiswa. Karena, hampir setiap
tugas harus diketik menggunakan computer atau laptop. Tapi sayangnya harga
gadget tersebut cukup mahal bagi sebagian orang. Tetapi mau tidak mau, para
mahasiswa harus mengerjakan tugasnya, dan akhirnya para mahasiswa yang tidak
punya uang lebih untuk membeli laptop, mereka akan pergi ke warnet atau
meminjam laptop teman. Bagi ibu-ibu pun gadget bisa menjadi kebutuhan sekunder,
contohya tablet yang digunakan seorang ibu untuk menghubungi suami dan
anak-anaknya, dan bagi ibu-ibu yang suka mencoba resep baru, mereka akan menggunakan
gadget untuk mengunduh e-book tentang resep masakan. Dan bagi para penghafal
Al-Qur’an pun, gadget bisa menjadi kebutuhan sekunder, karena biasanya mereka akan
mengunduh AL-Qur’an digital, untuk mendengarkan dan muroja’ah.
Bagi pekerja yang selalu berhubungan
dengan laptop atau computer, seperti teknisi computer, teller bank, akuntan,
sekertaris, dan profesi lainnya, gadget bisa menjadi kebutuhan primer bagi
mereka, karena jika mereka tidak memiliki gadget, mereka tidak bisa menyelesaikan
pekerjaannya.
Gadget
bisa menjadi kebutuhan tersier, seperti untuk bersenang-senang, contohnya seorang
anak yang tinggal bersama orang tua, ia tidak akan menggunakan handphonenya
untuk menelepon orang tuanya, karena memang masih serumah, tapi mungkin ia akan
menggunakan handphone nya untuk bermain games, ia akan mengunduh games, dan jika
tidak diawasi oleh orang tua, ia bisa menjadi pecinta games. Contoh lain
yaitu anak-anak atau remaja yang tidak terlalu membutuhkan laptop, karena
misalnya di sekolah mereka tidak ada tugas yang harus diketik. Tetapi mereka tetap
merengek pada orang tua ingin laptop atau android, dan lain-lain, akhirnya mereka
akan menggunakan gadget mereka untuk berphoto-photo, mendengarkan lagu, bermain
games, dan mungkin ada untuk sekedar bergaya. Dari dua contoh ini, saya menarik
kesimpulan, gadget menjadi kebutuhan tersier bagi anak-anak dan remaja yang
belum membutuhkan.
Semoga kita bisa mengunakan gadget untuk hal yang bermanfaat dan tidak lupa waktu. Aamiin yaa robbal 'aalamiin.
Alhamdulillaahirobbil
‘aalamiin


Mbak Salma, memang beda-beda ya kan sesuai kebutuhan, nah kalau daku udah di primer kayaknya ini :D
BalasHapusya, Alhamdulillah ya mbak Nufa Zee :)
Hapus