Senin, 21 Mei 2012

♥ ::.. Cinta Karena Allah ..:: ♥


::.. Cinta Karena Allah ..::

:: Tidak pernah sebatas pada penampilan dan kecantikan, adakalanya kau akan lebih mencintai SEBONGKAH ARANG HITAM daripada SEBUTIR INTAN yang berkilauan , karena sesungguhnya kau sadar bahwa kau membutuhkan sebuah kehangat yang mampu mengusir rasa dingin dari jiwa mu, lebih daripada sekedar keindahan yang ternyata membuatmu beku kedinginan..::

:: Tidak akan mengiringmu pada jurang kemaksiatan, ketika kau melihat dia dan kemudian mencintainya, hal itu akan membuatmu semakin berbenah diri, kau menjadi mampu melihat kekurangan-kekurangan didirimu untuk kemudian memperbaikinya..::

:: Tidak akan membuatmu berpikir sempit, justru kau akan berpikir lebih jauh ke depan , Lebih matang dan lebih dewasa ::

Salma  sayang  kaka,,

Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu,,,


Bismillahirrahmaanirrahiim

Ia, seorang lelaki yang dengan kewibawaannya mampu menjaga hati wanita
Bukan semata dapat menaklukkan hati wanita
Dengan syair pujangga dan janji angin syurga


Ia, seorang lelaki yang memuliakan wanita di hadapan Sang Pencipta
Memeluknya bersama menuntut Ilmu
Memandang mesra menuntunnya membaca Al-Qur'an
Menggelar sajadah bersamamu


Karena,,,
Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu
Jika kau hilangkan agama dalam dirimu
Hilanglah cintaku padamu
SUBHANALLAH


Selamat,,,
Semoga barokah Alloh untuk kita semua,
dan menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.
Aamiin
 

 

Kamis, 10 Mei 2012

Betapa Pentingnya Muraja’ah

Sebagai pelajar, mahasiswa dan (terlebih) penuntut ilmu syar’i yang telah banyak meluangkan waktunya untuk pergi ke kampus atau ma’had, tentunya kita dituntut untuk banyak memahami dan mencatat ilmu yang telah kita dapatkan. Bagaimana tidak, kesibukan sehari – hari yang silih berganti menghabiskan waktu, tentu sedikit banyak akan membuat kita lupa akan ilmu-ilmu yang telah kita dapatkan… entah itu ilmu tentang perkuliahan, terlebih lagi ilmu tentang dien / agama yang dicari oleh para thalabul ‘ilmi. Seringkali ketika telah menempuh kuliah di fakultas teknik, namun ketika ditanya permasalahan tentang bidangnya, kita dapati jawaban,” waduh ga tau ya…” (*^&%$^$#&@*%@)

Miris sekali bukan… Kemudian terlebih lagi ketika seorang thalabul ilmi yang telah jelas mengetahui sebuah kebenaran akan suatu syari’at, akan tetapi karena jarangnya dia memurajaah pelajaran yang dia dapatkan dari ustadz, maka ketika ditanya temannya yang lain, dia mengatakan,” waduh, tentang masalah itu ada haditsnya kok, tapi aku lupa…“ Sehingga tak jarang dari sini, si penanyapun akhirnya pergi berlalu begitu saja… Sungguh disayangkan bukan…?
Padahal jika kita tau dalil permasalahan tersebut, bisa jadi -dengan izin Allah- teman kita tadi akan mengikuti jalan hidayah… Dan ternyata, muraja’ah ini telah menjadi hal krusial yang tengah dihadapi oleh beberapa para thalabul ‘ilmi. Kebiasaan tidak mencatat ilmu serta tidak mengulanginya, amat mencuat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan umatnya tentang pentingnya mencatat dalam sebuah hadits: قيدوا العلم بالكتاب “Ikatlah ilmu dengan tulisan” [HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 637, Abu Nu’aim dalam Taariikh Ashbhaan 2/228 ; shahih lighairihi]. Namun, teramat sering kita mengabaikan titah Nabi kita yang mulia -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ini… Hal ini sangat berkebalikan dengan para salaf yang telah mendahului kita dalam mengamalkan kebaikan. Mereka selalu mencatat apa yang telah diberikan gurunya, padahal ketika itu lembar yang ada hanyalah daun – daunan dan kulit. Subhanallah… Akan tetapi, mereka tak lupa untuk memberikan nasehat kepada kita agar selalu murajaah, dan memahami betapa pentingnya murajaah sesungguhnya… Sebagaimana’Abdullan ibnu Mas’ud mengabarkan dari Nabi… عن عبد الله. قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “بئسما لأحدهم يقول: نسيت آية كيت وكيت. بل هو نسى. استذكروا القرآن. فلهو أشد تفصيا من صدور الرجال من النعم بعقلها”. Dari ‘Abdullah (bin Mas’uud), ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Alangkah mereka yang berkata : ‘Aku telah lupa ayat ini dan itu’. Namun sebenarnya ia dibuat lupa (oleh Allah ‘azza wa jalla). Maka, perbanyaklah mengingat (membaca) Al-Qur’an, karena ia lebih cepat hilang/tercabut dari dada-dada manusia daripada onta di tambatannya” [HR. Al-Bukhari no. 5032 & 5039, Muslim no. 790] Ditambah dengan ‘Alqamah berkata : تَذَاكَرُوا الْحَدِيثَ فَإِنَّ ذِكْرَهُ حَيَاتُهُ “Ulang-ulanglah hadits (yang telah kalian dapat), karena dengan mengingatnya adalah kehidupan hadits tersebut” [HR. Ad-Daarimiy no. 627; shahih]. kemudian Yuunus bin ‘Ubaid rahimahullah menceritakan: كُنَّا نَأْتِي الْحَسَنَ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِ تَذَاكَرْنَا بَيْنَنَا “Kami pernah mendatangi (majelis) Al-Hasan. Apabila kami keluar dari sisinya, kami saling ber-mudzakarah/mengulang-ulang (hadits) di antara kami” [HR. Ad-Daarimiy no. 632; shahih]. Itulah nasehat ulama tentang betapa pentingnyamencatat & mengulang ilmu yang kita dapatkan, baik itu ilmu dunia dari perkuliahan, terlebih lagi itu ilmu dien yang dengannya akan dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat kelak… Semoga Allah ta’ala melindungi kita dari penyakit – penyakit ilmu seperti yang dijelaskan Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu : إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ آفَةً وَآفَةُ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ “Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai penyakit, dan penyakit dari ilmu itu adalah lupa” [HR. Ad-Daarimiy no. 647; hasan]. Wallahua’lam…

-ditulis Didit Fitriawan setelah shalat isya’, 20 Oktober 2010- http://www.facebook.com/notes/morina-syahmerdan/betapa-pentingnya-murajaah/10150094021982033

Rabu, 09 Mei 2012

Mari Terbitkan Surga di Beranda Rumah Kita, Dinda

 

kurasakan air mata ini kembali menyuburkan bunga cinta di taman hati. Kupers                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            embahkan indah mekarnya untukmu, dinda. Semerbaknya begitu harum, bukan?”
*****
>>Saat itu. . .
Aku sudah mengenalmu karena memang engkau adalah tetangga dekatku. Olehku, benar-benar tak terbayang bahwa engkau kan menjadi kekasih hatiku yang terajut oleh untaian tali pernikahan. Jujur terakui, wajahmu tak terlalu cantik. Namun begitu, sulit pula bagi lidahku untuk kututurkan bahwa engkau jelek rupa. Biasa saja. Bagimu, make-up tak begitu penting. Itu kuketahui karena engkau memang tak pernah memoleskannya di wajahmu.                        
>>Aku dan Keputusanku…
Engkau adalah wanita sederhana. Iya, wanita sederhana, pintar, tak banyak bicara. Engkaulah wanita yang bersahaja. Terlihat dewasa, pula. Kesederhanaan dan kesahajaan yang engkau peragakan lah yang justru terasa mengusik hati ini. Benar, tak bisa kupungkiri. Tak bisa kututupi. Akhirnya, nyaliku terpercik hebat lalu menghujankan sebuah keputusan. Kupilih engkau menjadi permaisuriku.
>>Sejenak Tentangmu…
Engkau, dinda, bukanlah keturunan orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Aku tak peduli. Raga yang terbalut kain-kain penutup aurat dan jiwa yang terpaut akhirat yang kuingini. Terlebihi terpolesi ilmu syar’i. Tekadku sudah bulat. Kupinang engkau dalam waktu dekat.
Engkau, dinda, saat itu baru lulus SMA. Tak kusangka kalau engkau menerima lamaranku dengan tangan terbuka. Bahkan untuk menerimaku, engkau pangkas keinginanmu mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu begitu menyayangkan keputusanmu karena engkau termasuk siswa yang cerdas. Aku tak tahu, mengapa engkau memilihku menjadi pangeran yang akan menduduki singgasana hatimu, dinda. Sujud syukurku pada Allah ‘azzawajallah. Alhamdulillah.
>>Percikan Bahagia di Hari Pernikahan…
Dan hari itu pun kita menikah. Terbitlah kebahagiaan yang menyelimuti sanubari. Sempurnalah mekar indah pucuk asmara. Telah tiba saatnya biduk harus berlayar di samudera kehidupan. Terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati.
Adakah jalinan yang indah selain jalinan dan untaian tali pernikahan?
Adakah letupan-letupan cinta yang lebih menenteramkan hati sepasang muda-mudi selain dalam ikatan ini?
Adakah hubungan yang lebih menabung kebaikan selain hubungan sah secara syar’i?
Bak sejuknya tanah gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya dedaunan muda yang indah menghijau bersemi, bak syahdunya kicauan burung menyambut mentari di pagi nan cerah, begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati.
>>Aku Begitu Kagum. . .
Semua terasa mudah dan indah, dinda. Engkaupun merasakan hal yang sama, bukan? Saat itu, usiaku 25 tahun dan engkau baru 19 tahun. Memang masih terlalu muda untuk kalangan umum namun engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia dini. Dan tahukah engkau, dinda, itu membuatku semakin kagum padamu.
Dinda tersayang.
Semenjak menikah hingga saat ini, kekagumanku padamu terpupuk subur. Kudapati engkau belum pernah mengeluh tentang keadaan yang kita alami bersama. Padahal engkau sendiri tahu bahwa penghasilanku tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Begitu sering kita harus mengikis beberapa keinginan karena kita tak sanggup menggapainya. Benar-benar tak pernah terlihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena hal itu, dinda.
>>Tetesan Air Mata di Kasur Cinta..
Masih teringatkah olehmu, dinda, saat pertama kali kita arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil? Sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tetapi engkau benar-benar membuktikan kecerdikanmu, dinda.
Seonggok pakaian kita yang masih tersimpan dalam tas usang, kau keluarkan. Engkaupun melipatnya lalu engkau tumpuk dua hingga tiga helai. Engkau kemudian mengaturnya berjejeran. Diatas barisan baju itu, engkau bentangkan jilbab lebarmu. Jadilah kasur cinta ala istriku terkasih.
Sambil menyungging senyum manismu, engkau mempersilahkan aku mengempukkan diri di kasur cinta kita. Kutatap wajah ayumu, dinda. Kufokuskan mataku memandang hitam bola matamu sambil membalasmu dengan senyumku. Beberapa detik kemudian, kurasakan getaran hebat berkecamuk di hati. Dan, dan, dan berlinanglah air mata haruku. Aku cinta. Aku cinta. Aku mencintaimu, dinda.
>>Saatnya Engkau Melahirkan..
Bersamamu, wahai permaisuri hatiku, tak terasa begitu cepat bergulirnya waktu. Dengan penuh kasih, selalu indah nan syahdu terlalui hari-hari,dinda. Kekurangan materi yang terkadang menghantui seakan-akan bukanlah beban manakala kita senantiasa menebalkan keikhlasan di hati. Denganmu, dinda, begitu banyak pelajaran yang kupetik.
Masih ingatkah ketika usia pernikahan kita beranjak setahun, saat tujuh bulan usia kehamilanmu, dinda? Aku begitu panik ketika engkau mengalami pendarahan. Tapi engkau begitu tenang tak gugup. Dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu engkau sedang menahan sakit yang luar biasa. Segera saja kubawa engkau ke bidan. Dari pemeriksaannya, itu adalah tanda-tanda bahwa engkau akan melahirkan.
Jam 12 malam, saat manusia tengah asyik terlelap, anak pertama kita lahir dengan prematur. Ah, betapa aku bahagia, dinda. Berulang kali, kukecup keningmu dengan kecupan sayang penuh mesra.
>>Segelas Air Putih..
Aku melihat wajahmu melemas. Engkau begitu lelah. Secara perlahan, kau bisiki aku dengan berkata:
“abii…, aku lapeer.”
Tersentak aku mendengarnya, dinda. Ya, seharian tadi engkau tak makan karena kesakitan sejak kemarin. Sore tadi aku hanya membeli sebungkus roti untukmu namun sudah kulahap habis karena tadi engkau tak nafsu makan. Kini tak ada roti atau jajanan lain. Mau beli, jam segini semua toko dan warung sudah tutup.
Alhamdulillah, ada segelas air putih yang dibawakan bidan. Kusuguhkan sendiri untukmu agar kemesraan kita tetap terjalin dan barangkali letihmu akan terkikis. Perlahan, engkau pun meneguknya, dinda. Tak ada tuntutan dan keluhan sedikit pun yang terlontar dari lisanmu. Engkau sungguh mengagumkan, dinda. Aku memuji Allah atas anugerah ini.
Kesahajaanmu benar-benar menggelombangkan air mataku. Melihat semburat bahagia terbit di wajahmu, kembali kurasakan tetesan bening bak kristal itu mengalir syahdu dari pelupuk mataku. Seiring menyusuri lembah hidungku, kurasakan air mata ini kembali menyuburkan bunga cinta di taman hati. Kupersembahkan indah mekarnya untukmu, dinda. Semerbaknya begitu harum, bukan?
Yah, bayi yang menjadi permata hati kita yan selamat dan nampak sehat telah membuatmu lupakan lapar dan dahaga.
>>Engkaulah Penyejuk Hati..
Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam bahtera yang penuh dengan kesederhanaan tetapi kita tak pernah lontarkan keluh. Engkau tak pernah tuntut dunia dariku, dinda. Tak pernah minta ini. Tak pernah minta itu. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali. Perhiasan? Tak pernah engkau mengenalnya. Bagimu, bisa memenuhi kebutuhan saja tanpa berhutang sudah lebih dari cukup.
Sungguh, dinda. Aku amat bahagia mengenalmu sosokmu. Aku memuji Allah atas anugerah ini. Engkaulah permata sekaligus belahan jiwa yang menyejukkan hati. Mata akan teduh memandangmu. Engkaulah sebenarnya perhiasan itu, dinda. Semoga engkau selalu tegar menemani hari-hariku hingga kita jelang negeri penuh cinta nan abadi di akhirat nanti.
***
_____________
Catatan Editor:
Sejatinya, ini adalah kisah nyata yang tertera dalam buku “Bila Pernikahan Tak Seindah Impian”, penerbit Mumtaza, Solo, 2007, hal 118-122. Kepada penulis buku tersebut yaitu saudara Muhammad Albani (hafidzahullah), kami telah meminta ijin untuk menuturkan dan mengisahkan kembali sekaligus mendaur ulang bahasanya dengan tidak merubah alur kisah.
Kepada sepasang merpati dalam tulisan, semoga jalinan cinta yang terajut dalam kehalalan tersebut tetap terjaga hingga berjumpa dengan wajah Allah di surga, kelak.
Kepada para wanita, selalu kami titipkan nasehat agar merias diri dengan akhlak yang mulia dan membalutkan diri dengan ilmu syar’i. Ketahuilah wahai saudari-saudari kami bahwa salah satu dosa anda sebagai makhluk hawa, seperti yang disebutkan para ulama, adalah keengganan anda untuk menuntut ilmu dien ini. Jadikanlah wanita dalam kisah diatas sebagai  salah satu ibrah untuk menapaki jenjang pernikahan. Terakhir, jadilah kalian wanita  yang penuh kesahajaan dan selalu merasa cukup dalam dunia. Semoga Allah ‘azzawajalla mudahkan kalian memasuki surga-Nya.
Kepada sauadara-saudara kami, semoga kisah diatas menjadi salah satu percikan-percikan yang akan menerangi jenjang-jenjang kehidupan kita selanjutnya. Semoga Allah tabaraka wata’ala mengistiqamahkan kita di atas sunnah dan manhaj yang ditempuh para pendahulu sehingga kita mampu menjadi pribadi yang shahih berilmu nan mulia berakhlak. Kami rasakan fitnah-fitnah di akhir zaman begitu dahsyat menghantam karang keimanan.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla illa ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.
Salam persaudaraan penuh kehangatan ukhuwah,


SUMBER: Fachrian Almer Akiera
Mataram, Kota Ibadah,  menjelang isya’ di hari Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1431 H.

Mari Bercinta Di Surga

 

“…Peliharalah hati kami agar tak tertimbun dosa dan maksiat. Peliharalah hati kami dari segala noda dunia. Taburkanlah hati kami dengan iman agar terpelihara kami dari kesesatan dunia yang membelenggu dan dipenuhi segala mara bahaya…”
***
Kawanku yang mulia, kali ini ingin kuajak engkau terbang ke Negeri Penuh Cinta yang begitu mempesona. Kita akan menyusuri keindahan negeri tersebut melalui untaian penaku. Penaku akan memeraskan tintanya hingga terajutlah komposisi kata-kata yang tersusun menjadi paragraf-paragraf. Aku memohon kepada Allah سبحانه و تعالى agar komposisi kata-kata tersebut mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin terkikis oleh fitnah-fitnah di akhir zaman ini.
Aku berjanji bahwa petualangan kita ini tak akan menjemukan atau melelahkan namun akan menyejukkan jiwa dan raga. Bagaimana tidak? Allah سبحانه و تعالى telah menyediakan di dalamnya segala sesuatu yang kita inginkan, bahkan lebih dari apa yang kita inginkan.
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“..dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya..”[1]Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..barang siapa masuk ke dalamnya ia pasti akan mendapat kelezatan dan tidak [akan] sengsara, akan kekal abadi dan tidak akan mati, pakaiannya tidak [akan] rusak, dan keremajaannya tidak akan sirna..” [2]
Bagaimana, kawan? Sudah kah engkau mengetahui ke negeri mana kita akan berpetualang? Baiklah, sambutlah uluran tanganku ini sekaligus menandakan kuatnya tekad dan harapan yang bergelora untuk menjadi penghuni Surga. Rabbi yassir.
>>>Sambutan Hangat Para Malaikat. . . .
Kedatangan orang-orang beriman dalam Surga akan mendapat sambutan dan ucapan selamat dari para malaikat. Kawan, ini adalah suasana penuh kemuliaan dan kebahagiaan layaknya seorang raja yang mendapat sambutan dari dayang-dayang dan bawahannya.
أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا”…Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam Surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya..” [3]وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِن كُلِّ بَابٍْ”…sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu..” [4]وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ”…dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya..”[5]
Subhanallah, kawan. Berbahagialah engkau yang istiqamah berada di jalan keimanan ketika mereka berjuang gigih dan menyatukan barisan di jalan kekufuran.
>>>Tanah Kesturi dan Batu Kerikil. . .
Kawanku, mari kita ayunkan langkah sambil berjalan menyusuri tanah dan batu kerikil Surga. Cobalah engkau lihat. Surga tidak tercipta dari tanah liat dan batu seperti yang ada di dunia. Tanah yang kita lalui begitu lembut, bukan? Bagaimana tidak, Allah سبحانه و تعالى telah menjadikan kesturi yang amat murni bak tepuk terigu nan putih sebagai tanah Surga. Batu dan kerikilnya pun adalah mutiara dan berlian. Subhanallah.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“…di dalamnya banyak tenda dan kubah yang terbuat dari mutiara. Dan tanahnya adalah kesturi..”[6]“…tanahnya seperti tepung yang sangat putih, kesturi yang sangat murni..” [7]“…adukan semennya adalah kesturi yang sangat harum. Batu kerikilnya adalah mutiara dan berlian..” [8]
Subhanallah, begitu mengagumkan kawan. Siapakah lebih bagus ciptaannya dari Allah سبحانه و تعالى ?
>>>Pesona Keharuman Tiada Tara. .
Kawanku yang mulia, salah satu hal yang menenteramkan jiwa kita di dunia adalah ketika merasakan aroma wewangian yang sangat harum nan penuh nuansa kelembutan. Kita akan menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya kembali. Udara segar memenuhi dada serta kedua paru-paru dengan hembusan-hembusan yang mengeluarakan aroma keharuman. Lalu, sejuk dan bergairahlah jiwa-jiwa. Terkikislah jenuh pikiran. Namun tidaklah kekal karena bersifat keduniaan. Adapun di Negeri Penuh Cinta yang kekal abadi maka aroma-aroma harum semerbak tersebut tidak akan punah dan akan selalu tertebar abadi. Kualitasnya pun tentu tak akan terbandingkan.
Berbahagialah engkau yang tidak membunuh kafir Mu’ahhad [9]. Berbahagialah wanita-wanita yang menutup anggun tubuh mereka dengan syari’at hijab sehingga lekuk tubuhnya tak terlihat. Berbahagialah seorang wanita yang berjalan tidak berlenggak-lenggok untuk menyihir mata yang memandang. Kuucapkan selamat atas kami dan kalian semua.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..barang siapa membunuh kafir mu’ahhad, ia tidak akan mencium aroma Surga. Padahal aromanya bisa dicium dari jarak perjalanan 40 tahun.” [10]“..wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mendapati aromanya. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun..” [11]
Duhai penaku, tak jemu-jemu kutitip salam untuk para wanita agar membalut tubuhnya dengan syariat hijab. Aku harap mereka tak memperlihatkan lekuk tubuh dan kecantikannya di depan kami sebagai kaum laki-laki. Sungguh, kami tak membutuhkan apa yang mereka perlihatkan itu. Kami membutuhkan keimanan mereka yang sekokoh karang. Kami membutuhkan aura ketakwaan yang menyemburat dari relung jiwa yang tersirami sejuknya ilmu syar’i.
>>>Pakaian Penduduknya dan Ranum Buahnya. . . .
Begitu banyak jenis pakaian yang ada di dunia dengan berbagai mode. Ia melambangkan keindahan dan selera pemiliknya. Penaku selanjutnya akan mengajak kita melihat gambaran pakaian penduduk Negeri Penuh Cinta agar jiwa ini semakin bergelora merindukan negeri impian tersebut (bukan Negeri Mimpi atau Republik Mimpi).
Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah menjawab pertanyaan salah seorang sahabat tentang pakaian penduduk Surga, apakah lansung diciptakan atau ditenun:“..tidak, tetapi dikeluarkan darinya buah-buahan surga..” [12] beliau mengatakannya tiga kaliوَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ”..dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera..”[13]
Bagaimana dengan buahnya? Kita akan melihat kurma terlebih dahulu. Cobalah pandang warna batangnya yang merah keemasan. Daun-daunya adalah pakaian-pakaian mahal penduduk Surga.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“…kurma Surga, batangnya terbuat dari batu jamrud hijau [14]. Warnanya merah keemasan. daunnya adalah pakaian bagi para penduduk Surga. Darinya datang potongan-potongan dan baju-baju mahal mereka..” [15]
Kawan, makanan, minuman dan buah-buahan merupakan salah satu dari sekian banyak kenikmatan yang Allah سبحانه و تعالى sediakan bagi penduduk Negeri Penuh Cinta. Amat berbeda dengan buah-buahan penduduk bumi dari segi rasa, kadar, bahkan warna dan bentuknya walaupun dengan nama yang sama.
Cobalah kau alihkan pandanganmu sejenak, buahnya begitu mudah dipetik kapanpun kita inginkan dan kehendaki. Tanpa ada kesulitan dan tak perlu alat-alat untuk membantu.
وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا”..Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya..” [16]
Pun, kita bisa menikmatinya dalam setiap keadaan baik berdiri, duduk, dan telentang dalam situasi apapun yang kita inginkan.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..sesungguhnya penduduk Surga akan makan buah-buahan Surga dalam kondisi berdiri, duduk, dan telentang dalam keadaan apapun yang mereka inginkan..” [17]
Lihatlah kembali kawan, buahnya sebesar guci dan timba. Ia lebih putih dari susu. Lebih manis dari madu. Lebih lembut dari cream. Dan ia tidak memiliki biji..
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..Buah-buahan Surga sebesar guci dan timba. Ia lebih putih dari susu. Lebih manis dari madu. Lebih lembut dari cream. Dan ia tidak memiliki biji..” [18]
Begitu rindunya hati ini dengan kenikmatan negeri nan abadi. Begitu inginnya jiwa ini bersua dalam Surga yang tiada duka dan lara.
>>>Lezatnya Daging Burung Panggang. .
Kawan yang kucinta, burung yang kita dengar kicaunya di dunia dengan segala jenisnya yang banyak memiliki daging yang lezat dan tentu saja mengundang selera, apalagi dengan racikan bumbu-bumbu khas nusantara.
Lantas bagaimana dengan daging burung Surga? Tentu saja lebih lezat dengan cita rasa yang tak bisa dirasakan kelima alat indera kita saat ini.
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ”..dan daging burung dari apa yang mereka inginkan..” [19]Abdullah bin Abbas bertutur:“..maksudnya adalah daging burung yang kalian senangi dan kalian inginkan… Dalam hati seorang dari mereka [penduduk Surga], terbesit [keinginan] (untuk memakan) daging burung di Surga, maka burung itu langsung terbang dan terjatuh di hadapannya sesuai keinginannya dalam keadaan sudah tergoreng atau dipanggang…” Dalam sebuah hadist disebutkan:“..sesungguhnya kamu benar-benar melihat burung di surga. Maka burung itu segera terjatuh di hadapanmu dalam keadaan terpanggang..”[20]
Subhanallah.. amat nikmat berada di Negeri Penuh Cinta.
>>>Mari kawan kita bergandeng tangan…
Telah tertabuh genderang pertanda niat kita yang membara untuk menjadi penghuni Negeri Penuh Cinta. Mari kita bergembira ria menuju rahmat dan ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالى, menuju kesenangan yang penuh kenikmatan yang meggelora hati di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa. Mari bergandeng tangan menuju negeri yang tiada lelah nan letih. Mari menuju ru’yaturrahman (memandang wajah Allah سبحانه و تعالى) dengan wajah berseri-seri karena melihat Tuhannya.
>>>Semburat do’a penuh harap..
Ya Allah,hanya rahmat-Mu yang kami harap maka janganlah menyerahkan kami kepada diri kami meski hanya sekejap mata. Perbaikilah segala urusan kami dan tunjukilah kami kepada jalan lurus tiada berliku.Peliharalah hati kami agar tak tertimbun dosa dan maksiat. Peliharalah hati kami dari segala noda dunia. Taburkanlah hati kami dengan iman agar terpelihara kami dari kesesatan dunia yang membelenggu dan dipenuhi segala mara bahaya. Isikanlah hati kami dengan kebaikan dan kemurnian agama-Mu. Lembutkanlah lidah kami untuk memuji dan mengagungkan-Mu.
Duhai Rabbi, anugerahkanlah pahala atas setiap goresan pena kami. Jadikanlah rajutan kata-kata ini menjadi embun yang menyejukkan hati bagi siapapun yang membacanya. Jadikanlah pula sebagai wasilah dan sebab tercucur dan tercurahnya hidayah-Mu. Mudah-mudahan mampu menjadi saksi kelak di hari kebangkitan.
****Sekian, salam santun penuh kehangatan cinta untuk anda semua. .Subhanakallahu allahumma wa bihamdika, asyhadu alla ila ha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika..


SUMBER:
Fachrian Almer Akira (Yani Fachriansyah Muhammad as-Samawiy)
Mataram, Lombok._Selesai beberapa menit menjelang pukul 00.30 wita dini hari._(kala dentuman hujan mengguyur kota)14 Jumadil Tsani 1431 H (28 Mei 2010)_
udhatul-muhibbin.blogspot.com/2010/10/mari-bercinta-di-surga.html


Melati merindukan Lebah,,,

Saat  anggrek  datang  dengan  sejuta  pesona,, 
mawar  dan  melati  terlupakan,,
tidakkah  ia  sadar,,
siapakah  yang  mengajarkan,,
arti  cinta  yang  sesungguhnya,, 
pengorbanan,   dan  ketulusan,,,
Kini  mawar  dan  melati  terluka,,
bagai  tertusuk  duri  yang  tajam,,,

aku  tak  secantik  mawar,,
aku  tak seanggun  anggrek,,
aku  hanyalah  sesosok  melati,,
yang  menjaga  hati,,
selalu  menanti,,
Cinta  Sejati,,
yang  penuh  arti,,,