Senin, 02 Juli 2012

"H"


“H”  IDUP
“A”  DALAH
“M”  ENCINTAI &
“D”  ICINTAI
“A”  LLAH  SWT &
“N”  ABI  MUHAMMAD SAW

.."H"...a...r...a...p...a...n...

  
  "H"  arapan yg telah Q rangkai..
  
  "A"  khirnya retak tak t'sisa.. 

  "M"  impi indah yg Q nantikan..

  "D"  iterpa berbagai dilema..

  "A"  nganQ untuk merangkai cinta..

  "N"  yatanya menghempas luka..

                  ,+"SaLmA"+,
                +,,"..sS.",,+
______________________________

Selasa, 19 Juni 2012

"Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menghias hati dengan menangis    
Oleh : Muhammad Nuh
 
"Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.
Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.
Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An'am ayat 164. "...Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.
Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.
Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.
Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah."
Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. "Pasti, pasti saya akan masuk surga," begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.
Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.
Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."
Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (QS. 80: 34-37)
Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.
Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. "Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.

Kamis, 14 Juni 2012

Kepingan cinta itu telah hilang,, ;'(


Dengan air mata yg masih berlinang
Q bisikan namamu pd layang2
Q biarkan ia terbang
b'sama cinta yg hanya bisa Q kenang. . .

Bila hati bagai cermin
Cermin ini telah pecah
Dan tak dapat dirangkai ulang
Kepingan cinta itu telah hilang
Dan tak dapat Q temukan

Mungkinkah hati ini mulai keruh
Karena air mata yg bergemuruh
Rasa yg tak mungkin Q sentuh
Q biarkan pergi menjauh

Q bisa berseri
Menggugah semua rasa luka
Q bisa tertawa
Mengelak semua perih di jiwa
Rasa yg slama ni Q daki
Hruz Q relakan pergi

Andai saja Q tak memendam rasa
Mungkin peri cinta berpihak padaQ

Minggu, 10 Juni 2012

Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah,, dan berharga,,

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar. (QS Al Ahzab [33]:70) Rasulullah saw
bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka
hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam". Hadis Riwayat Bukhari
dan Muslim.

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara, tetapi
setiap kali berbicara bisa dipastikan kebenarannya.
Setiap butir kata
bagai untaian mutiara yang indah, berharga, berbobot, dan monumental.
Bahkan bisa menembus, menggugah, menghujam, dan memiliki daya ubah
hingga menjadi kebaikan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Mulut kita ini seperti corong teko. Teko hanya akan mengeluarkan isi
yang ada.
Kalau di dalamnya air bersih, yang keluar bersih. Kalau di
dalamnya
air kotor, yang keluar pun kotor. Karenanya bila kita
ingin mengetahui derajat seseorang, lihatlah dari apa yang
diucapkannya.


Sebuah kitab mengisyaratkan tentang derajat orang
dilihat dari
pembicaraannya.
Pertama, orang yang berkualitas. Cirinya, jika
berbicara sarat dengan hikmah, solusi, ide, gagasan, ilmu, atau
zikir. Jika diajak berbicara apa pun ujungnya selalu bermanfaat.

Kedua,
orang yang biasa-biasa. Cirinya sibuk menceritakan peristiwa,
hampir segala peristiwa dikomentari.
Tidak terlarang menceritakan
peristiwa, tapi renungkanlah apakah ada manfaatnya atau tidak.
Ketiga, orang yang rendahan. Cirinya selalu mengeluh, mencela, atau
menghina.
Keempat, orang yang dangkal. Cirinya sibuk menyebut-nyebut
amal, jasa, dan kebaikannya.
Orang seperti ini ibarat gelas kosong
yang inginnya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri,
inginnya dihargai terus.

Bagaimana halnya dengan orang yang suka bergosip? Bergosip sepertinya
merupakan hal yang umum, padahal itu
termasuk dosa besar dan tak akan
diampuni Allah sebelum dimaafkan oleh orang yang digosipi
. Gosip
adalah menceritakan kejelekan seseorang yang bila mendengar sakit
hati.


Bila kejelekan yang dibicarakannya itu benar, maka itu adalah ghibah
yang dosanya sama dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tapi bila
yang dibicarakannya itu ternyata salah, maka itu adalah fitnah yang
dosanya lebih keji daripada membunuh.
Karenanya jangan pernah mau
terlibat dalam perbincangan tentang kejelekan orang lain, karena bisa
jadi kita memfitnah seseorang tanpa kita sadari.

Jika pernah bergosip, maka bertobatlah, mintalah ampun kepada Allah
dan jangan sekali-kali mengulanginya, kecuali perbincangan yang
dilakukan sebagai upaya untuk menolong dan memperbaiki kekurangan
seseorang, bukan untuk sekadar membicarakan aibnya, apalagi untuk
menyebarkan aibnya.

Bagaimana menghadapi orang yang tak bisa menjaga lidahnya? Kita tak
bisa memaksa orang lain untuk bersikap sesuai dengan keinginan kita,
tapi kita bisa memaksa diri kita untuk memberikan sikap terbaik
terhadap orang lain.

Dengarkanlah pembicaraan orang lain sepanjang dalam kebenaran, tapi
bila yang dibicarakannya kebatilan, maka kita harus menolong orang
yang berbuat zalim dan yang dizalimi. Kita harus berani mempersingkat
pembicaraan, memberhentikan, atau meninggalkannya. Syukur bila kita
bisa
memberi
contoh bagaimana cara berbicara yang baik dan memberikan ilmu

tentang bagaimana menjaga lisan.
Yang pasti jangan dihina,
direndahkan atau diremehkan,
sebab kita bisa menjaga lisan pun karena
pertolongan dan taufik Allah jua, hingga kita justru berutang kepada
orang-orang yang belum baik lisannya.

Lalu bagaimana bila ada orang yang rajin membaca Alquran, tapi
lisannya tak terjaga? Kita jangan terlalu mudah menilai orang lain,
sebaiknya kita husnudzan dulu. Mungkin ia sedang berusaha keras untuk
menjaga lisannya, tetapi belum mencapai hasil yang diharapkan.

Ada orang yang lahir di lingkungan yang buruk sekali sedemikian rupa
hingga, walaupun ia banyak belajar ilmu agama dan sudah berusaha
untuk berubah, pengaruh masa lalunya masih kuat sekali. Orang ini
perlu perjuangan yang lebih gigih daripada orang-orang yang lahir
dalam lingkungan yang baik.

Tidak pernah seseorang terampil menjaga lisannya kecuali dengan ilmu
dan kesungguhan melatih diri.
Percayalah, makin banyak bicara, makin
banyak peluang tergelincir lidah. Dan kalau tergelincir lidah, selain
akan berdosa juga kehormatan kita akan runtuh. Tetapi orang yang
banyak bicara tak selalu berarti buruk.
Yang buruk itu adalah orang
yang banyak membicarakan kebatilan. Para guru, ustaz, atau kiai
justru bisa menjadi masalah jika tak berbicara.

Ya Allah, Engkau Mahatahu niat di balik setiap patah kata yang
terucap.
Ampunilah jikalau lisan ini sering riya, dusta, melukai hati
hamba-hamba-Mu, atau tak menepati janji
. Basahi lidah kami dengan
kelezatan menyebut nama-Mu. Jadikan lisan kami menjadi lisan yang Kau
ijabah doanya, menjadi cahaya ilmu, dan menjadi bekal bagi kepulangan
kami kelak kepada-Mu...



Jumat, 08 Juni 2012

Kutunggu jawaban-Mu di sajadah kalbu..

::.. Bismillahirrahmaanirrahiim ..::
 

♥♥ RISALAH CINTA ♥♥
::.. Yaa Ilahi Rabbi...
Kutunggu jawaban-Mu di sajadah kalbu..
Kusimpan pesona-Mu di relung hati..
Kusibak tabir-Mu dengan menanggalkan dosa..
Ku raih Kasih-Mu dengan bertasbih..

::.. Yaa Waduud..
Semaikan benih-benih cinta, agar aku dapat menyapa senyum-Mu..
Bukankah setetes air cinta tidak akan mengurangi keindahan-MU..
Bukankah aku berhak merasakan kemesraan cinta-Mu..
Jikalau Engkau tolak risalahku, kemana lagi ku alamtkan goresan tinta, cinta dan cita-cita ini..

::.. Yaa Rahman, Yaa Rahiim..
Aku memang petualang cinta,
Aku masih mencari dan belajar memaknai cinta..
Sebagian cintaku ku gadaikan pada yang lain,
Namun dengan keagungan cinta-Mu..
Bukankah Engkau tidak pernah menolak cinta hamba-Mu..
Terimalah puing-puing cintaku.. Balsalah cintaku dengan Mahabbah cinta-Mu...

::.. Yaa Arham Al Rahim..
Dihadapan-Mu ku pejamkan mata batin ku, tuk menahan rasa malu..
Nuraniku bertanya, kado apa yg dapat memikat-MU..??
Hanyalah risalah cinta ini yg dapat ku persembahkan..
semoga Engkau berkenan menerimanya..

~Aamiin~

(^_^

gema adzan........

Bismillahirrohmaniirohiim .::

Sebelum adzan Subuh sempat berkumandang di wilayah terbarat benua Afrika, adzan Dzuhur pun siap berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya. Sementara kumandang adzan Dzuhur belum sempat terdengar kembali di bagian timur Indonesia, adzan Ashar telah siap menjelajah belahan dunia lainnya. Saat gema adzan Ashar belum selesai, Adzan Magrib telah merambah bumi ini. Selang beberapa saat adzan Isya’ pun siap melanjutkan. Ketika gema adzan Isya’ belum selesai di benua Amerika, adzan Subuh sudah kembali terdengar di sebagian wilayah Indonesia. Seiring bergantinya siang dan malam ternyata adzan akan selalu berkumandang di muka bumi ini. Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini, tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan. Insya Allah, gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman.

:::. SubhanAllah